Kamis, 11 April 2013

TINGKATAN DALAM KOMUNIKASI KOMUNIKASI INTERPERSONAL




TINGKATAN DALAM KOMUNIKASI
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
DOSEN : YERIA ALLEN F., S.Kep. Ns.



 Oleh
                        Kelompok 2                  :          
 1. Agustriati                      ( 2012.C.04a.0281 )
 2. Andreriyanto                 ( 2012.C.04a.0283)
  3. Josevan Stapano            ( 2012.C.04a.0308 )
  4. Intan Oksatia                 ( 2012.C.04a.0305 )
 5. Ongky Pebri P.              ( 2012.C.04a.0323 )

                        Program Studi   :     S-1 Keperawatan Tingkat 1A


YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S-1 KEPERAWATAN
TAHUN 2012

  


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah menolong penyusun menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu Komunikasi Interpersonal, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “Tahapan Dalam Komunikasi yaitu pada Komunikasi Interpersonal”. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada para pengajar yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.



                                                                                    Palangka Raya, November 2012
                                                                                               

                                                                                                     Penyusun




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Komunikasi Interpersonal (Interpersonal Communication) merujuk pada komunikasi yang terjadi secara langsung antara 2 orang. Konteks interpersonal banyak membahas tentang bagaimana suatu hubungan dimulai, bagaimana mempertahankan suatu hubungan, dan kedekatan suatu hubungan (Berger, 1979 : Dainton dan Stafford, 2000). Salah satu alasan mengapa peneliti dan teoretikus mempelajari relasi adalah karena relasi merupakan hal yang sangat kompleks dan beragam. Berinteraksi dalam tiap hubungan ini memberikan kesempatan kepada komunikator untuk memaksimalkan fungsi berbagai macam saluran (penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan penciuman) untuk digunakan dalam sebuah interaksi. Dalam konteks ini, saluran ini berfungsi secara simultan bagi kedua partisipan interaksi.
Konteks interpersonal sendiri terdiri atas beberapa sub konteks yang terkait. Peneliti komunikasi interpersonal telah mempelajari mengenai keluarga, pertemanan, pernikahan berusia panjang, hubungan dokter-pasien, dan relasi di lingkungan kerja. Selain itu, para peneliti juga tertarik akan banyak isu dan tema berkaitan dengan hubungan-hubungan ini. Para peneliti juga mempelajari kaitan antara komunikasi interpersonal dengan media massa, organisasi, dan lingkungan kelas.
Para peneliti juga mulai menaruh perhatian pada hubungan yang selama ini belum cukup diteliti, seperti hubungan gay dan lesbian, hidup bersama tanpa pernikahan, dan hubungan melalui jaringan komputer. Para peneliti telah menghasilkan banyak penelitian yang beranekaragam dalam konteks komunikasi interpersonal, dan mempelajari hubungan serta apa yang terjadi di dalamnya memiliki daya tarik yang besar.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian komunikasi interpersonal ?
1.2.2 Apa pengembangan klasifikasi komunikasi interpersonal ?
   1
 
1.2.3 Apa tujuan komunikasi interpersonal ?
1.2.4 Apa efektivitas komunikasi interpersonal ?
1.2.5        Apa fungsi komunikasi interpersonal ?

1.3      Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Umum
Menganalisis komunikasi interpersonal.
1.3.2        Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian komunikasi interpersonal.

1.4      Batasan Masalah
Ruang lingkup pembahasan makalah ini hanya mencakup tentang materi tahapan komunikasi dalam komunikasi interpersonal.

1.5      Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini menggunakan Metode studi kepustakaan, yaitu dengan metode membaca dan mengumpulkan data-data dari buku serta mencari informasi dari berbagai situs internet.














BAB 2
 PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya (Muhammad, 2005).
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000).
Komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan di antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang dengan berbagai efek dan umpan balik (Sendjaya, 1994).
Komunikasi interpersonal memiliki sifat-sifat yaitu bersifat dua arah yang berarti melibatkan dua arah dalam situasi interaksi, ada unsur dialogis dan ditujukan kepada sasaran terbatas dan di kenal.
Ada beberapa pengertian komunikasi interpersonal menurut beberapa ahli, yaitu :
2.1.1        Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003).
2.1.2        Menurut Verdeber (1986), komunikasi interpersonal merupakan suatu proses interaksi dan pembagian makna yang terkandung dalam gagasan-gagasan dan perasaan (Alo Liliweri, 1994).
2.1.3       
 3
 
Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003).
2.1.4        Menurut Judy C. Person (1983), komunikasi interpersonal memiliki karakteristik tertentu. Komunikasi interpersonal bersifat transaksional yaitu tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak dalam menyampaikan dan menerima pesan. Komunikasi interpersonal merupakan rangkaian tindakan, kejadian, dan kegiatan yang terjadi secara terus-menerus.
Komunikasi interpersonal juga menyangkut aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi, melibatkan dengan siapa kita berkomunikasi dan bagaimana hubungan dengan partner.
Dalam komunikasi interpersonal dilakukan pemahaman komunikasi dan hubungan interpersonal dari sudut individu, yang selanjutnya disebut dengan proses psikologis. Proses psikologis merupakan bagian penting dalam komunikasi interpersonal karena dalam komunikasi interpersonal individu mencoba menginterprestasikan makna yang menyangkut diri sendiri, diri orang lain, dan hubungan yang terjadi.
Dalam komunikasi interpersonal, terjadi komunikasi konvergen. Komunikasi konvergen merupakan proses mencipta dan saling berbagi informasi mengenai realita di antara dua partisipan komunikasi atau lebih agar dapat dicapai saling pengertian dan kesepakatan makna (meaning) antara satu dengan yang lain. Masing-masing pihak akan melakukan pencerapan (perceiving), lalu menginterprestasikan informasi tersebut sehingga menjadi pemahaman (understanding) dan selanjutnya timbul keyakinan (believing) yang menimbulkan tindakan (action).
Tujuan utama komunikasi yang bersifat konvergen adalah mendekatkan pengertian masing-masing kedalam suatu pengertian yang relatif sama antara patisipan yang satu dengan yang lain. Konvergen adalah kecendrungan dua atau lebih individu untuk bergerak menuju satu tujuan. Konvergensi ditentukan oleh intensitas komunikasi di antara pimpinan dan karyawan atau antara atasan dan bawahan.
Menurut Cangara, H (2004) komunikasi antarpribadi dibedakan menjadi dua macam yaitu Dyadic Communication dan Small Group Communication.
2.1.5        Dyadic Communication
Merupakan komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka yang berbentuk percakapan, dialog, dan wawancara. Perawat melakukan pengkajian dalam mendapatkan data yang akurat dengan menggunakan komunikasi yang terapeutik serta melaksanakan asuhan keperawatan dengan konsep humanistik yang merupakan aplikasi dari dyadic communication.
2.1.6        Small Group Communication
Merupakan komunikasi dengan kelompok kecil dimana proses komunikasi berlangsung antara tiga orang atau lebih yang dilakukan dengan cara tatap muka. Hal-hal yang melandasi small group communication adalah anggota-anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung dengan tatap muka.
Berikut adalah bentuk komunikasi yang teramati atau terlihat (visible/observable aspect), yaitu :
2.1.6.1 Interactant, merupakan orang yang terlibat dalam interaksi komunikasi seperti pembicara, penulis, pendengar, dengan berbagai situasi yang berbeda.
2.1.6.2 Symbol. Terdiri atas simbol (huruf, angka, kata-kata, tindakan) dan bahasa simbol (bahasa indonesia, bahasa inggris, dan lain-lain).
2.1.6.3 Media, saluran yang digunakan dalam setiap situasi komunikasi.
Tampilan komunikasi yang teramati/tampak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak terlihat, tetapi terasa pengaruhnya, yaitu sebagai berikut.
2.1.7        Meaning (pengertian), ketika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata, gambar dan sebagainya. Kata ini merupakan simbol yang mewakili suatu makna, misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan, dan sebagainya.
2.1.8        Learning (belajar), interprestasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi yang diasosiasikan pengalaman, interprestasi muncul dari belajar yang diperoleh dari pengalaman. Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita pelajari. Komunikasi tidak bergantung pada turunan/genetic, tetapi makna dan informasi yang dihasilkan merupakan hasil belajar terhadap simbol-simbol yang ada di lingkungannya. Membaca, menulis dan menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal dan kemampuan kita dalam berkomunikasi merupakan hasil belajar (learning) dari lingkungan.
2.1.9        Subjectivity (subjektivitas), pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama sehingga saat individu meng-encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama. Interprestasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.
2.1.10    Negotiation (negosiasi), komunikasi merupakan pertukaran simbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa negosiasi merupakan pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna, masing-masing pihak harus menyelesaikan makna satu sama lain.
2.1.11    Culture (budaya). Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain, individu adalah partisipan dari kelompok, organisasi, dan anggota masyarakat melalui partisipan berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan masyarakat. Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita adaptasi melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan, dan diubah, sedangkan budaya menciptakan cara pandang (point of view).
2.1.12    Interacting levels and context, komunikasi antarmanusia berlangsung dalam bermacam konteks dan tingkatan. Lingkup komunikasi setiap individu sangat beragam mulai dari komunikasi antarpribadi, kelompok, organisasi, dan massa.
2.1.13    Self reference. Perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu untuk mencerminkan pengalaman yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan serta cara kita menginterprestasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman, kebutuhan, dan harapan-harapan kita.
2.1.14    Self reflexivity. Kesadaran diri (self-consciousnes) merupakan keadaan dimana seseorang memandang dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.
2.1.15    Inevitability. Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun, tetapi tindakan diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat dan itu mengungkap suatu makna komunikasi.
Adapun cara-cara yang bisa digunakan sebagai panduan dalam membangun komunikasi interpersonal yang efektif adalah sebagai seperti di bawah ini.
2.1.16    Menciptakan ketertarikan dan menangkap perhatian.
Salah satu hal yang bisa kita lakukan agar orang lain menjadi tertarik dengan kita adalah dengan menumbuhkan ketertarikan kita terhadap orang tersebut. Dengan menciptakan ketertarikan terhadap orang tersebut sebenarnya kita telah melakukan salah satu upaya pengumpulan informasi mengenai lawan bicara kita. Dengan begitu, sedikit demi sedikit kita dapat membuka tabir misteri lawan bicara kita dan membuat kita memiliki pengetahuan dalam menyikapi lawan bicara kita di kemudian hari.
Selain itu, manfaatnya adalah membuat lawan bicara kita merasa nyaman apabila berhadapan dengan kita. Akan tetapi, dalam upaya menciptakan ketertarikan ini hendaknya kita juga memperhatikan hal-hal tertentu yang kira-kira tidak membuat lawan bicara kita merasa seperti diinvestigasi. Memulai pembicaraan dengan mendiskusikan masalah cuaca, kemacetan lalu lintas, ataupun hal-hal umum lainnya kadang membuat lawan bicara menjadi bosan.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah sebaliknya kita tidak mengungkit-ungkit masalah-masalah yang sensitif seperti agama, ras, dan hal-hal tabu lainnya sesuai dengan daerah asal dimana lawan bicara kita berasal.
2.1.17    Membangun rasa simpati.
Maksudnya adalah bagaimana membangun suatu lingkungan komunikasi dimana lawan bicara kita merasa percaya diri saat berbicara dengan kita. Cara-caranya antara lain dengan membuat suasana yang hangat saat berkomunikasi, menghilangkan suasana superior dan inferior, yakni bisa dengan kontak mata yang hangat dan bersahabat, menirukan bahasa tubuh lawan bicara, ataupun dengan menyebut nama lawan bicara kita berulang-ulang untuk menunjukkan rasa hormat kita padanya.
2.1.18    Percaya diri.
Percaya diri sangat penting dalam berkomunikasi. Saat kita memiliki kepercayaan diri, maka kita akan membangun gambar (image) diri kita kepada orang lain, akan tetapi kurangnya kepercayaan diri membuat kita aka dipandang sebagai seorang yang memiliki posisi yang lemah. Percaya diri saat berkomunikasi dapat menciptakan energi yang positif. Komunikasi menjadi lancar dan jelas bahkan kita dapat memengaruhi lawan bicara hanya dengan bermodalkan kepercayaan diri.
2.1.19    Mengaplikasikan kemampuan bertanya, mendengarkan, dan diam.
Sebagian besar komunikasi yang efektif menggunakan ketiga skill ini. Orang yang lebih banyak mendengar justru menjadi orang disenangi dalam komunikasi. Hal yang harus diperhatikan adalah kita tetap berusaha untuk membedakan antara pendiam dan diam aktif. Seseorang yang mampu berkomunikasi dengan baik manakala dia mampu menggunakan kemampuan bertanya, mendengar, dan diam pada saat yang tepat.
2.1.20    Kejujuran dan empati.
Menciptakan ketertarikan pada orang lain seperti pada poin satu sebenarnya adalah bagaimana kita membuat suatu bentuk ketertarikan pada orang lain dengan sebenar-benarnya. Kejujuran adalah jujur dalam tertarik pada orang lain. Hal ini sangat penting karena biasanya ketertarikan dan perhatian yang dibuat-buat justru mudah untuk dikenali.
2.1.21    Optimisme.
Optimisme menekankan pada hal-hal positif yang didiskusikan dalam suatu komunikasi. Komunikator yang baik tentu akan berusaha untuk menggiring setiap pembicaraan kea rah yang positif. Dengan kata lain, komunikator yang baik dapat memberikan respon positif yang dapat membuat komunikasi tidak hanya selalu berpikiran pada hal-hal yang negatif sehingga suasana optimis pun dapat tercipta.

1.2    Klasifikasi Komunikasi Interpersonal
Pengembangan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.
a. Interaksi intim termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota keluarga, dan orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang kuat.
b.  Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
c.  Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
d.  Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa Tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari informasi mengenai suatu pekerjaannya.

1.3    Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan di paparkan enam tujuan, antara lain :
a.    Menemukan diri sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.
b.    Menemukan dunia luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak komunikasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang dating kepada kita dari media massa hal itu sering kali di diskusikan dan akhirnya dipelajari atau di dalam melalui interaksi interpersonal.
c.    Membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti
Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal di abadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
d.   Berubah sikap dan tingkah laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
e.    Untuk bermain dan kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pekan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah pembicaraan untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting
dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
f.     Untuk membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakan komunikasi interpersonal dalam kegiatan professional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita
semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

1.4    Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu :
1.4.1        Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran. Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya.
1.4.2        Empati (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
1.4.3        Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategi, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.
1.4.4        Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara : (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
1.4.5        Kesetaraan (Equality)
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.
Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.


1.5    Fungsi Komunikasi Interpersonal
Fungsi Komunikasi interpersonal sebagai berikut:
1.5.1        Untuk mendapatkan respon/umpan balik. Hal ini sebagai salah satu tanda efektivitas proses komunikasi. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada umpan balik, saat Anda berkomunikasi dengan orang lain.
1.5.2        Untuk melakukan antisipasi setelah mengevaluasi respon/umpan balik. Contohnya, setelah apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui lawan bicara kita kurang nyaman diajak berbincang.
1.5.3        Untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sosial, yaitu kita dapat melakukan modifikasi perilaku orang lain dengan cara persuasi. Misalnya, iklan yang arahnya membujuk orang lain.

















BAB 3
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
       Proses komunikasi adalah kompleks, tetapi penting dalam pemecahan masalah yang efektif, dan penuh arti dalam hubungan antar individu. Ini adalah suatu proses yang tidak pernah di kuasai secara nyata, suatu proses yang secara terus-menerus meningkat.
       Proses ini menerima sikap yang pasti, pengetahuan, teknik, pikiran sehat, dan suatu kemauan untuk mencoba. Suatu komunikasi yang efektif terjadi bila kita telah mencapai kejelasan secukupnya akan keseksamaan untuk menggunakan situasi lain secara adekuat.
       Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi langsung antara profesional-profesional dan profesional klien. Komunikasi ini biasanya dalam bentuk dialog, meskipun kondisi tertentu juga terjadi secara monolog.
3.2  Saran
3.2.1    Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama mahasiswa keperawatan.
3.2.2    Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan.








13
 
 
DAFTAR PUSTAKA

West, Richard. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta : Salemba Humanika
Littlejhon, Stephen. 2009. Teori Komunikasi, Edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika
Istiana, Anna. 1987. Komunikasi Interpersonal. Surabaya : Reconserved Consultant
Nasir, Abdul. 2009. Komunikasi dalam keperawatan: Teori dan aplikasi. Jakarta : Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar